Ramadhan dan Kemerdekaan Kita

Oleh : Muhammad Fakhry Ghafur

Tak terasa hari demi hari bulan Ramadhan telah kita lalui bersama. Bagi sebagian besar umat Islam Indonesia, Ramadhan memiliki kesan tersendiri terutama terkait dengan peringatan proklamasi kemerdekaan. Tepat pada 17 agustus 1945 atau 9 Ramadhan para founding father memproklamirkan kemerdekaan republik ini. Begitu kuat pengaruh Ramadhan sehingga dapat memotivasi setiap orang beriman untuk meningkatkan ketakwaan pada Allah Swt. Banyak hikmah yang dapat dipetik dan dijadikan pelajaran bagi umat Islam di bulan Ramadhan. Bukankah berbagai peristiwa penting berhasil ditorehkan umat Islam pada bulan Ramadhan. Sebut saja perang Badar 17 Ramadhan 2 Hijriyyah yang berhasil dimenangi kaum muslimin, pembebasan kota Mekkah pada 10 Ramadhan 8 Hijriyyah, perang Tabuk dan lain sebagainya. Ramadhan merupakan momentum yang tepat untuk melepaskan diri dari belenggu hawa nafsu hingga seseorang dapat menjadi insan paripurna.

Urgensi Ramadhan

Dalam beberapa literatur kamus Bahasa Arab, Ramadhan terambil dari akar kata “ar-Ramdha’” yang berarti membakar perbuatan dosa. Melalui asal kata tersebut dapat dilihat bahwa Ramadhan merupakan bulan dimana setiap dosa akan hangus terbakar oleh beragam aktivitas ibadah yang kita lakukan. Betapa mulia dan agungnya bulan Ramadhan, hingga setan-setan pada bulan tersebut dibelenggu dan pintu neraka ditutup serapat-rapatnya serta pintu surga dan rahmat Allah di buka seluas-luasnya. Melalui bulan ini umat Islam dituntut untuk menjadi seorang hamba yang bebas merdeka dari kekangan hawa nafsunya. Mungkin sebagian besar kita bertanya-tanya, pahala apa gerangan yang akan diberikan sekiranya ibadah di bulan Ramadhan telah kita jalani, apa yang akan diperoleh dari malam Nuzulul Qur’an atau malam Lailatul Qadar? Memang kita tidak akan mendapatkan pahala dalam bentuk fisik langsung, tetapi yang terpenting bagi orang yang beriman adalah pahala yang jauh lebih besar dari  dunia dan segala isinya. Yakni, berupa pahala atas kesabaran yang kelak akan kita terima baik di dunia dan akhirat.  Jika seorang muslim mampu mengendalikan hawa nafsunya disertai dengan peningkatan kualitas ibadah selama sebulan penuh, pada akhirnya akan menjadi insan bertakwa yang jiwanya hanya tunduk pada Allah semata, tidak pada godaan-godaan duniawi seperti pangkat, martabat dan jabatan. Demikianlah seharusnya umat Islam menjadi orang merdeka yang dapat menjaga dirinya juga lingkungan sekitarnya dari penindasan, kezaliman dan keruksakan. Layaknya sang Rasul diutus untuk menyelamatkan manusia dari penghambaan terhadap makhluk menjadi penghambaan diri hanya kepada sang Khalik.

Semangat Ramadhan ; Semangat Kemerdekaan

Jika Ramadhan merupakan momentum untuk berjuang melawan rintangan dan godaan hawa nafsu, maka kemerdekaan pada hakikatnya adalah mempunyai spirit yang sama  yaitu berjuang melawan berbagai bentuk penjajahan untuk menentukan nasib sendiri. Teks proklamasi yang dibacakan Soekarno pada 17 Agustus 1945, menunjukkan bahwa bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaan dari segenap bentuk penjajahan. Namun, dibacakannya teks tersebut bukan berarti perjuangan telah usai, masih banyak rintangan dan tantangan yang harus dilalui untuk menjadi bangsa yang merdeka. Bahkan, sampai saat ini kita belum merasa menjadi bangsa merdeka. Masih adanya penjajahan dalam bentuk lain (korupsi, kolusi dan nepotisme) menunjukkan bangsa ini belum merdeka secara total. Karenanya, perjuangan sesungguhnya untuk menegakkan kemerdekaan di negeri ini masih panjang dan berliku. Banyak agenda yang perlu diselesaikan, seperti memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, melaksanakan ketertiban dunia serta perdamaian dan keadilan sosial –sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945-.

Kemerdekaan merupakan hasil dari kerja keras dan kesungguhan para pahlawan. Slogan “merdeka atau mati” tertancap kuat dalam dada para pejuang kemerdekaan. Mereka rela mengorbankan harta, jiwa dan raganya demi terwujudnya Indonesia merdeka. Demikian halnya Ramadhan, umat Islam dituntut bekerja keras dan bersungguh-sungguh untuk memperoleh ketakwaan. “Man Jadda Wajada”. Begitu kata pepatah. Siapa yang bersungguh-sungguh maka dia akan memetik hasilnya. Allah Swt. tidak akan memberikan derajat ketakwaan kepada seseorang secara gratis, tapi dengan ujian dan cobaan terlebih dahulu sampai seorang hamba mampu melaluinya. Sebagaimana firmannya : “Apakah manusia mengiri bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan : “Kami beriman”, sedangkan mereka tidak diuji lagi?” (Q.S.Al-Ankabut : 2). Menahan lapar, haus dan syahwat dari sejak terbitnya matahari sampai terbenamnya adalah ujian yang harus dihadapi orang yang berpuasa untuk bisa menggapai derajat ketakwaan. Maka beruntunglah orang yang dapat berhijrah dari dunia yang terjajah menuju dunia yang merdeka dan mengisinya dengan sesuatu yang positif, sebagaimana umat Islam menjadikan Ramadhan sebagai bulan untuk berhijrah dari derajat muslim dan mukmin menuju derajat yang lebih tinggi yaitu Muttaqin. Pada akhirnya, sinergisitas antara kemerdekaan dan Ramadhan dapat mengantarkan bangsa ini menjadi bangsa yang besar dan mulia dihadapan Allah dan manusia pada umumnya.

 

 

 

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s