Masa Depan Libya Pasca-Qadafi

Oleh : Muhammad Fakhry Ghafur

Setelah selama kurang lebih enam bulan melakukan pertempuran dan berhasil menguasai beberapa kota penting di Libya, akhirnya pasukan pemberontak di bawah komando National Trancition Council (NTC) yang didukung NATO berhasil memasuki Tripoli dan mengklaim telah menguasai 70 persen wilayah tersebut. Bahkan, pasukan pemberontak berhasil menguasai Bab al-Aziziyah sebagai benteng pertahanan utama kekuatan militer Qadafi. Dengan dikuasainya Tripoli oleh pemberontak, menandakan babak baru perjuangan revolusi yang dimulai sejak pertengahan Februari lalu di Benghazi. Kemenangan kubu NTC pun disambut suka cita oleh segenap rakyat Libya yang merindukan pergantian kepemimpinan. Peristiwa tersebut sempat menjadi headline berbagai media massa di dunia dan menyebutnya sebagai akhir dari kepemimpinan rezim yang telah berkuasa selama 42 tahun. Yuriko Koike, mantan menteri Pertahanan dan Penasihat Keamanan Nasional Jepang, menyebut sebagai The Last Days of Gaddafi. Hancurnya kekuatan militer ditambah perpecahan dalam kubu Qadafi dengan membelotnya beberapa orang kroninya, mulai dari Mustafa Abdul Jalil, Abdul Fatah Younis, Ali Tarhouni, Al-Issawi, hingga yang terakhir kepala perusahaan minyak Libya Omran Abukraa, menandakan runtuhnya kekuasaan rezim dan akan berakhirnya konflik di Libya. Adapun bagi NTC maupun NATO, peristiwa tersebut merupakan momentum yang tepat untuk mengakhiri kekuasaan Qadafi dan membuangnya ke tempat sampah sejarah, serta akhir sebuah era di mana selama 42 tahun hak-hak dan kebebasan rakyat dirampas. Bahkan, bisa jadi merupakan Ramadhan terakhir bagi Qadafi dan Ied (kemenangan) tidak hanya untuk rakyat Libya, tetapi juga seluruh bangsa Arab yang menghendaki tegaknya demokratisasi di kawasan serta menjadi perayaan Idul Fitri terbaik sejak perang Ramadhan tahun 1973 melawan Israel. Dalam konteks politik domestik, keberhasilan pasukan pemberontak tersebut merupakan langkah awal untuk menggalang kekuatan (solidaritas) dengan berbagai etnis dan suku yang ada di Tripoli karena Tripoli merupakan kota di mana berbagai macam etnis dan suku di Libya membaur untuk mencari penghidupan. Dengan dikuasainya Tripoli, akan memudahkan NTC untuk menyatukan suku dari berbagai daerah ketika mereka melihat angin perubahan. Karena itu, keamanaan dan wacana perubahan ke era baru harus betul-betul diperlihatkan oleh kubu NTC kala mereka telah menguasai Tripoli. Keberhasilan tersebut dapat dijadikan momentum untuk membangun kemitraan yang sinergis dengan berbagai elemen, seperti NFSL, Partai Demokrat Libya, dan Ikhwanul Muslimin, atau bahkan gerakan lainnya untuk merumuskan langkah-langkah transisi, membentuk dewan eksekutif, legislatif, yudikatif, penegakan HAM, dan kebebasan media hingga melaksanakan pemilu dalam waktu delapan bulan ke depan sebagaimana yang diungkapkan oleh ketua NTC Abdul Jalil, beberapa waktu lalu. Sejak meletusnya konflik pertengahan Februari lalu, perekonomian Libya mengalami penurunan secara drastis, inflasi meningkat, angka pengangguran membengkak, dan kemiskinan merebak hampir ke seluruh penjuru negeri akibat terhentinya pasokan kebutuhan pokok. Bahkan, krisis politik yang terjadi di Libya berdampak pada stabilitas ekonomi global dengan naiknya harga minyak dunia. Karena itu, masa depan Libya sangat ditentukan oleh langkah-langkah brilian Dewan Transisi Nasional atau pemerintahan baru pasca-Qadafi dalam memulihkan stabilitas ekonomi dalam negeri. Hal tersebut bisa terwujud jika mampu mengoptimalkan sumber daya alam Libya yang melimpah, terutama dari sektor minyak bumi dan gas alam serta meningkatkan peran masyarakat dalam perekonomian (economic society) yang selama ini diabaikan oleh rezim Qadafi. Tugas selanjutnya adalah merekonstruksi undang-undang dan penegakan hukum. Sejak bergulirnya revolusi Al-Fatih yang dipimpin Qadafi tahun 1969, konstitusi yang berlaku di Libya adalah kitab Al-Akhdhar beserta syarah (penjelasannya) yang disusun Qadafi pada 1976. Kitab Al-Akhdhar terdiri atas tiga jilid, pertama tentang solusi demokrasi, kedua tentang ekonomi, dan ketiga tentang teori dunia ketiga. Konsolidasi nasional Sebagai negara dengan latar belakang etnis dan suku yang beragam, Dewan Transisi Nasional dituntut untuk secepatnya melakukan konsolidasi nasional. Walaupun banyak kalangan memandang positif terhadap revolusi yang terjadi di Libya, beberapa suku tetap mempunyai loyalitas yang tinggi terhadap Qadafi, khususnya di daerah-daerah pedalaman. Sistem kesukuan memang masih merupakan suatu yang sangat fundamental di Libya melebihi negara lain di kawasan Afrika Utara. Kebanyakan keluarga di Libya membawa nama suku karena orang dapat dengan mudah mengidentifikasi suku seseorang hanya dengan mengetahui nama keluarganya. Terdapat kurang lebih 140 suku di Libya. Sejak revolusi 1969, mayoritas suku mendukung pemerintahan Qadafi, namun pascapecahnya konflik suku-suku di Libya, tiap suku mempunyai pandangan politiknya sendiri dalam menyikapi krisis politik yang terjadi. Suku Al-Qadzdzafah, misalnya, yang mayoritas penduduknya bermukim di Sirte, tempat kelahiran Qadafi, mendukung penuh terhadap pemerintahan rezim dan menolak bergabung dengan pemberontak. Suku ini sangat berpengaruh dan berkuasa di Libya sejak Qadafi memimpin. Begitu juga dengan suku Warfallah, kelompok suku terbesar di Barat Libya, yang menghuni daerah Bani Walid, Sirte, Dernah, Misrata, dan Benghazi. Mansour Khalaf sebagai kepala suku menyatakan dukungannya terhadap Qadafi dan menolak bergabung dengan pemberontak. Tetapi, setelah sebagian besar wilayah yang dihuni suku Warfallah di Dernah, Misrata, dan Benghazi dikuasai pemberontak, suku ini pun bergabung untuk mendukung revolusi. Kemudian, di selatan-barat Tripoli, terdapat suku Al-Mujabra yang memunculkan salah satu tokoh dewan revolusi 1969 dan orang kepercayaan Qadafi, yakni Abdul Fatah Younis Jaber. Sama halnya dengan al-Qadzdzafa, suku ini memberikan dukungan penuh terhadap rezim Qadafi. Adapun di wilayah tengah barat Libya terdapat suku al-Megrahi yang merupakan sekutu kuat al-Qadzdzafa yang mendukung rezim Qadafi. Suku ini menghasilkan para pejuang revolusioner, seperti Abdussalam Jalloud, mantan perdana menteri era Qadafi, dan Abdel Baset Al-Megrahi, salah seorang tokoh yang dituduh sebaga pelaku bom Lockerbie. Adapun suku yang berasal dari timur Libya, seperti suku Zawiya, Bani Salim, Misratha, dan Al-Waqir, serta suku-suku kecil lainnya di timur, menjadi penentang rezim Qadafi sejak bergulirnya revolusi pertengahan Februari lalu. Pada masa kolonialisme Italia, suku-suku di Libya pernah bersatu menggalang kekuatan untuk mengusir penjajah di bawah pimpinan Omar al-Mukhtar. Karena itu, alangkah baiknya jika pemerintahan transisi di bawah pimpinan Mustafa Abdul Jalil mampu mempersatukan berbagai suku di Libya. Karena itu, dialog dan konsolidasi berkesinambungan perlu dilakukan untuk menghindari konflik horizontal antarsuku. Pada era revolusi, tepatnya pada tanggal 6 Mei 2011, Pemerintah Libya berusaha untuk mempersatukan suku-suku tersebut dalam sebuah forum yang digelar di Tripoli. Forum tersebut menghasilkan beberapa pernyataan, antara lain, pertama, menekankan pentingnya gencatan senjata untuk mengakhiri konflik di Libya. Kedua, tidak mendukung salah satu kubu yang bertikai. Ketiga, menolak intervensi asing terhadap krisis yang terjadi Libya dan mendorong dunia internasional untuk mencabut zona larangan terbang yang ditetapkan PBB. Terakhir, Dewan Transisi Nasional harus mampu untuk menghilangkan bayang-bayang AS dan NATO selama proses transisi menuju demokrasi di Libya. Sebagaimana diketahui bahwa AS dan negara-negara Barat mempunyai kepentingan, baik politik maupun ekonomi, dengan melakukan intervensi militer di Libya. Menteri Pertahanan AS Robert Gates mengatakan bahwa dana yang akan dikeluarkan oleh AS sebesar 750 juta dolar. Dengan dana besar yang dikeluarkan AS untuk perang Libya, bukan berarti AS maupun NATO akan begitu saja meninggalkan Libya pasca-Qadafi. (Dimuat di Republika, 3 September 2011).

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s