Perempuan Tanpa Bakat (Catatan Prof. Dr. Afif Muhammad MA)

Kalau ada seorang perempuan yang paling sabar di dunia ini, itu pasti ibuku. Seperti umumnya orang Jawa pesisiran, aku memanggil ibuku dengan “Emak.” Orangnya tinggi semampai, berkulit langsat, dengan rambut lurus, hitam tebal. Orang tidak akan menyebut emakku cantik, tetapi jika dikatakan “manis”, mereka pasti sepakat. Emak, menurutku, salehnya luar biasa. Emak anak sulung dari sembilan bersaudara. Dari deretan panjang saudara Emak itu, laki-lakinya hanya ada tiga orang. Selebihnya perempuan.
Emak buta huruf latin, tetapi pandai membaca huruf Arab, rajin shalat dan membaca Al-Qur’an. Suaranya sendu dan bergetar. Bulik-bulikku mengatakan, “Makmu itu, kalau membaca Al-Qur’an, membuat orang yang mendengarnya bisa nangis.”
Emak adalah orang yang tidak bisa berteriak. Seumur hidupku, aku belum pernah mendengar Emak bersuara tinggi. Entah tidak bisa, atau memang tidak mau, sampai hari ini aku tidak tahu. Yang aku tahu, Emak jarang sekali marah. Kalau pun marah, Emak cenderung diam. Sepertinya, amarahnya tidak pernah bisa keluar, karena dada Emak begitu kuat menahannya. Tetapi, itu tak berarti Emak tidak pernah marah. Namanya juga manusia. Cuma, marah Emak diwakilkan kepada anak-anaknya. Maksudku begini. Sekali waktu, ketika aku minta embuh, nasi sudah tidak ada lagi. Aku menangis sambil gulung-gulung di tanah. Piring kulempar. Eee…, Emak tenang-tenang saja. Yang marah justeru kakak-kakakku. Mereka mengikat aku di salah satu tiang bambu yang ada di dapur. Emak tidak mencegah mereka. Sepertinya, dia mau mengatakan, “Kalau kamu seperti itu, Emak tidak marah, tapi kakak-kakakmu yang marah padamu.”
Ketika aku meronta, tiang itu jebol, dan kakak-kakakku membawa aku ke lubang sampah yang lebarnya kira-kita dua meter dan dalamnya satu setengah meter. Mereka mengancamku untuk memasukkan aku ke lubang itu. Ancaman itu mujarab. Aku tidak menangis lagi. Kemudian Emak memandikanku di sumur, sambil menasehatiku dengan suara lembutnya. Dan semuanya selesai. Aku tidak tahu bagaimana perasaan Emak saat itu. Mungkin hatinya tersayat-sayat melihat aku masih ingin makan, tetapi nasi sudah tidak ada lagi. Padahal sebenarnya, tidak boleh embuh itu sudah aturan keluarga. Cuma, karena ketika itu aku masih kecil, aku kurang bisa memahaminya.
Malam harinya, ketika Emak menidurkan aku, Emak menasehatiku dengan suaranya yang lembut, “Anak seusiamu boleh nakal, tetapi tidak boleh merusak…”. Mendengar itu, diam-diam aku menangis.
Hubungan Emak dengan Bapak bukan sekedar hubungan suami dengan isteri, tetapi guru dan murid. Kalau Bapak berbicara kepada Emak, Bapak menggunakan bahasa ngoko, tetapi Emak menjawabnya dengan bahasa kromo. Emak begitu hormat kepada Bapak, sampai-sampai tidak pernah kudengar dia protes barang sekali pun. Aku tidak tahu apa sebabnya. Mungkin kakek dan nenekku (dari pihak Emak) mengajarinya begitu. Melawan suami? Tidak ada kamusnya. Karena, memang tidak ada alasan bagi Emak buat melawan Bapak.
Emak pernah bercerita kepadaku bahwa ketika menikah dengan Bapak, Bapak adalah joko tua (bujangan tua). Ukurannya bukan usia Bapak, tetapi jarak usia mereka berdua. Aku tidak tahu persis berapa jarak usia Emak dengan Bapak. Tetapi, ketika Bapak meninggal duani di tahun 1993, usianya 93 tahun. Emak meninggal dunia tahun 2000 dalam usia 83 tahun. Berapa tahun tuh jaraknya?
Kata Emak, ketika menikah, Emak masih kecil. Mereka dijodohkan oleh Embah (ayahnya Emak). Ceritanya seperti kisah para pendekar jaman dulu. Bapak adalah santrinya Kiai Muntaha di Pondok Kedung Macan. “Kedung” artinya sarang dalam bentuk lubang besar. Lazimnya di tengah Sungai. Jadi, mestinya Kedung (untuk) Buaya, bukan Kedung Macan. Entahlah. Mungkin di kampung itu dahulu ada macan yang bersarang di dalam kedung di tengah suangai, sehingga namanya menjadi Kedung Macan. Sedangkan Emak tinggal bersama Embah di Tawangsari. Aku yakin Embah orang asli Jombang. Sebab, sanak-familinya tersebar di seluruh penjuru Mojopahit.
Emak adalah tipe isteri yang berbakti kepada suami. Keikhlasannya menjadi pendamping Bapak memancar lahir dan batin. Tampaknya, konsep “suwarga nunut neraka katut” benar-benar mendarah-daging pada diri Emak. Sepertinya Emak yakin betul bahwa Bapak pasti membawanya ke surga, tidak ke neraka. Antara mereka berdua tidak pernah ada pertengkaran, tidak ada protes, tidak ada keluh-kesah, tidak ada kata kasar dan bentakan. Yang ada adalah kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi kehidupan yang sangat berat. Kondisi seperti itu yang membuat aku, hingga kini, pasti tersentak kaget setiap mendengar suara tinggi, apalagi bentakan.
Semua itu membuat Emak memang tidak ceria, tetapi juga tidak kelabu. Wajahnya teduh, dan memancarkan keikhlasan dan kesabaran tanpa batas. Kebutuhan hidupnya sangat tidak tercukupi. Tetapi Emak tidak pernah mengeluh. Tidak pula pernah menangis. Kalau pun pernah, aku tak pernah melihatnya, bahkan sampai Emak meninggalkan kami. Di tangan Emak, apa yang bagi orang lain tak cukup, menjadi cukup. Yang sempit menjadi lapang. Yang dianggap orang hanya cukup untuk seorang, di tangan Emak bisa cukup untuk tiga orang. Daya tahannya benar-benar luar biasa, dan itu dialirkannya ke tubuh kami lewat setiap kepal nasi yang dibagikannya di piring-piring kami, lewat setiap tetes air yang kami teguk, lewat dingin malam yang kami lalui dalam gelap, lewat terobosan angin yang menyelusup di dinding-dindingbilik rumah kami yang berlubang, lewat suara sendunya saat membacara kalam Ilahi, lewat cahaya matanya yang berkaca-kaca tetapi tak pernah mengalirkan air mata, lewat detik-detik waktu yang kami jalani jengkal demi jengkal, lewat lidah-lidah api yang marayap dari daun-daun kering yang digunakannya untuk menanak nasi.
Daun-daun kering untuk menanak nasi? Ya. Emak memang sering memasak dengan menggunakan daun kering sebagai pengganti kayu bakar. Mestinya hal itu tidak perlu terjadi. Sebab, mencari kayu bakar dari ranting-ranting pohom atau carang (ranting-ranting pohon bambu) kering tidak terlalu sulit kami dapatkan. Tetapi Emak tentu tidak dapat melakukan itu. Biasanya aku yang melakukannya. Tetapi, sebagai anak-anak yang masih dalam usia senang bermain, aku tidak selamanya dapat mencari kayu atau carang untuk Emak. Kesadaran kanak-kanakku rasanya belum dapat menjangkau hal-hal seperti itu. Sekali pun tidak sering, aku tidak jarang membiarkan Emak tidak punya kayu untuk menanak nasi. Kalau sudah begitu Emak menyapu pekarangan kami yang memang luas itu, guna mengumpulkan daun-daun nangka dan mangga yang berserakan. Daun-daun keringnya dipisahkan dari daun-daun basahnya, lalu daun-daun itu dimasukkan ke sangkar ayam, dan dibawa ke dapur. Dengan daun-daun kering itulah Emak menanak nasi. Jadi, bisa kawan-kawan bayangkan berapa lamanya menanak nasi dengan daun-daun kering seperti itu. Sebab, jika kita menaruh tangan kita di atas lidah-lidah apinya, rasanya tidak panas.
Sekali pun dengan daun kering, nasi atau air yang ditanak Emah, toh, masak juga. Entahlah, untuk waktu itu rasanya, ya, biasa-biasa saja. Tidak lama. Mungkin karena manusia zaman itu belum sibuk seperti sekarang, sehingga semuanya berjalan tidak tergesa-gesa seperti sekarang ini. Matahari rasanya lambat berjalan. Waktu antara Zhuhur ke ‘Ashar, dan ‘Ashar ke Maghrib, terasa cukup lama, sehingga bermain layang-layang pun bisa kenyang. Keadaan seperti itu sangat berbeda dengan yang aku rasakan ketika aku sudah dewasa. Sekarang ini aku merasakan bahwa waktu berjalan begitu cepat. Entahlah, mungkin karena aku sibuk, sehingga waktu berjalan tanpa terasa. Tambahan lagi, orang-orang sekarang kan penuh persaingan. Kalau tidak cepat, pasti tidak dapat. Akibatnya, segala sesuatu berjalan tergesa-gesa, seakan-akan semua orang dikejar-kejar waktu. Atau, jangan-jangan, matahari memang berjalan lebih cepat?
Dengan anak delapan orang, hampir di sepanjang hidupnya, Emak tidak merasakan kegembiraan. Emak tidak pernah punya baju bagus. Bahkan jumlah bajunya pun sangat sedikit. Lemari kami yang tinggi besar dan terbuat dari jati itu tidak pernah ada isinya. Apalagi perhiasan. Dalam hal makan, beras untuk hari ini, ya, dibeli hari ini. Bahkan, kadang-kadang tidak ada. Botekan-nya pun lebih sering kosongnya dibanding berisinya. Karena itu, ketika kami pingin rujakan, kami seringkali sulit menemukan bumbu, bahkan sekedar sebutir cabai rawit sekali pun. Itu sebabnya masakan Emak “tidak enak.” Bukan karena Emak tidak pandai memasak, tetapi bumbunya yang nggak ada. Karena itu, ketika kami sudah sama-sama dewasa, dan kebetulan bisa berkumpul, lalu kami membicarakan masakan Emak, kami berkata sambil tersenyum-simpul: “Masakan Emak tidak enak.” Kalau sudah begitu, Mas Chalik pasti membela, “Ya, karena nggak ada yang bisa dipakai membuat enak, Dik….” Dan kami pun tertawa gembira. Kami semua bangga punya Emak seperti itu, sebangga kami terhadap Bapak.
Pengaruh Bapak pada diri Emak kuat sekali, sehingga Emak menjadi sangat berbeda dari saudara-saudaranya. Ketaatannya beribadah, adalah ketaatan Bapak. Khuyu’nya dalam shalat adalah kekhusyu’an Bapak. Ketidaksukaannya membicarakan orang adalah kebiasaan Bapak. Walhasil, menurutku, Emak sudah “lenyap” dalam pusaran Bapak yang demikian kuat.
Ketika aku rindu pada Bapak dan Emak seperti sekarang ini, aku sering membayangkan betapa menderitanya mereka. Tetapi penderitaan itu mereka hadapi tanpa suara. Bukan bisu, tetapi diam. Sikap diam yang sanggup membuat penderitaan menyerah di kaki mereka. Mereka berdua adalah orangtua yang rela menderita demi anak-anak mereka. Pandangan mereka jauh ke depan, sehingga yang di depan mata tidak mereka perdulikan. Mereka berdua begitu memperhatikan kami, sehingga hak-hak mereka untuk sedikit senang, rasanya sudah kami rampas sehabis-habisnya.
Emak sepertinya dihadirkan Tuhan untuk menjadi perempuan tanpa bakat, kecuali tabah dan sabar. Sebab, ketika Emak berusaha melawan kesulitan hidup kami dengan berbagai usaha, semuanya gagal. Emak pernah mencoba menjadi penjual ikan asin di pasar kota, dan gagal. Menjual jamu dan tembakau susur, juga tidak berhasil. Ketika ibu-ibu lain memelihara ayam dan bertelur banyak, ayam-ayam yang dipelihara Emak seperti mandul. Ketika orang-orang lain menanam mangga dan berbuah lebat, pohon mangga kami justeru berulat. Kata orang, tangan Emak “panas.” Ia keturunan Drupadi, yang tidak diciptakan kecuali hanya untuk menjadi ibu bagi anak-anaknya.
(Kisah ini diceritakan oleh Prof. Dr. Afif Muhammad, MA, guru sekaligus ayah kami tercinta dalam akun Facebooknya).

| Tinggalkan komentar

Konflik Gaza dan Kehancuran Israel

 Ditengah gencatan senjata antara Palestina dan Israel, ledakan bom tiba-tiba menggetarkan jantung ibu kota Zionis Israel. Tidak hanya itu, dua buah roket ditembakan pejuang Hizbullah dari Lebanon. Perdamaian di Palestina pun nampaknya masih jauh dari harapan.

Koran harian terkemuka Israel “Maarev” beberapa waktu lalu menyatakan bahwa meskipun kedua belah pihak sepakat untuk gencatan senjata, namun tidak dijelaskan secara rinci mengenai bentuk kesepakatan damai itu. Bahkan, berdasarkan sumber dari seorang diplomat Mesir, bahwa Israel belum menyepakati perjanjian damai yang diajukan pemerintah Mesir. Dengan kata lain, Israel sewaktu-waktu akan kembali menyerang Gaza jika Hamas masih meluncurkan roket-roketnya. Sementara itu, harian Yedioth Ahronoth di Tel Aviv memberitakan bahwa konflik yang terjadi antara Israel dan Hamas menunjukkan adanya kemajuan dari sistem pertahanan kedua negara dalam beberapa dekade terakhir. Pencapaian terbesar Israel adalah mampu mengoptimalkan misile Iron Dome dalam menghalau serangan roket Hamas hingga dapat mengurangi korban jiwa dan kehancuran secara signifikan. Dalam hal ini militer Israel mengklaim telah menghalau sekitar 300an roket Fajr-5 yang dilesatkan Hamas. Disamping itu, Israel juga mengklaim berhasil menghancurkan 1400 sasaran yang menjadi basis pejuang Hamas melalui udara salah satunya adalah target yang menjadi sasaran Israel yaitu komandan sayap militer Hamas Kataib Al-Qassam, Ahmad Al-Jabiri. Dalam konteks regional, koran ini juga menambahkan bahwa Israel berhasil memaksa Mesir dan negara-negara Arab untuk menghentikan penyelundupan senjata dan memaksa Hamas mengakhiri serangan roketnya.  Disisi lain, koran lainnya menyebutkan prestasi Hamas dalam perang kali ini –terlepas dari bantuan Iran dan negara-negara Arab- yang mampu melesatkan ribuan roket Fajr-5 hingga mencapai jantung pertahanan Israel di Gush Dan, Yerussalem dan Tel Aviv. Terlepas dari keberhasilan Israel dalam menyerang Gaza, beberapa media seperti, Haaretz menyatakan bahwa militer Israel telah gagal untuk kesekian kalinya menyerang Gaza. Lebih lanjut Jerusalem Post mengabarkan bahwa Pemerintah Israel gagal dalam menghalau serangan roket Hamas kendati beberapa roket mampu dihalau sistem roket Iron Dome, sehingga negaranya senantiasa berada dalam bayang-bayang ancaman serangan roket Hamas. Dari sini kita dapat melihat betapa citra Israel semakin terpuruk tidak hanya di mata rakyat Israel sendiri, tetapi juga dunia Internasional. Popularitas Presiden Israel, Benyamin Netanyahu pun nampaknya akan semakin menurun menjelang pemilu mendatang seiring kegagalan Israel dan kekacauan ekonomi Israel akibat konflik tersebut. Serangan Israel ke Gaza selama delapan hari tersebut hanya menambah catatan kegagalan Israel Untuk kesekian kalinya sejak agresi militer 2008/2009 serta kekalahan dari Hizbullah tahun 2006.

Solusi Konflik

Konflik Palestina-Israel dapat dikatakan sebagai konflik terpanjang yang terjadi di kawasan Timur Tengah. Sejak lama, rakyat Palestina menganggap Zionis Israel adalah penjajah yang dengan semena-mena menguasai sebagian besar tanah air mereka. Sebaliknya, Israel memandang Hamas sebagai teroris yang harus disingkirkan karena dapat mengganggu kepentingan zionis Israel di Timur Tengah. Israel –yang telah kehilangan kepercayaan di mata dunia- dengan dukungan Amerika Serikat dan negara-negara Barat, tengah menyusun strategi baru untuk secepatnya menyerang basis-basis pertahanan Hamas di Gaza. Sebaliknya,  dengan bantuan Rusia, Iran, Mesir dan negara-negara Arab lainnya, Hamas berupaya untuk memperkuat armada tempurnya untuk menghindari serangan rerupa dikemudian hari. Dari sini kita dapat melihat betapa konflik Palestina-Israel merupakan konflik yang akut yang tidak hanya dipicu oleh satu faktor saja, tetapi banyak faktor yang melatarbelakanginya. Hanya ada satu solusi untuk mengatasi konflik Palestina-Israel, yaitu berdamai. Selama kedua belah pihak menolak dialog untuk berdamai, maka sudah pasti sampai kapan pun konflik antara Palestina dan Israel akan terus berlangsung. (M.Fakhry.G, Lc, M.Ag, Pengamat Politik Timur Tengah LIPI).

| Tinggalkan komentar

Membaca Konflik Suriah

Oleh : Muhammad Fakhry Ghafur

Krisis politik yang terjadi di Suriah dewasa ini nampaknya sudah mencapai anti klimaks, terutama dengan semakin meningkatnya kontak senjata antara pemerintah Basyar Asad dengan kubu pemberontak di beberapa kota. Sejak meletusnya revolusi  puluhan ribu orang tewas serta ribuan lainnya harus mengungsi ke negara-negara tetangga seperti Turki, Yordania dan Lebanon. Sampai saat ini baik PBB, OKI maupun Liga Arab belum mengambil sikap tegas terkait kekejaman rezim al-Asad bahkan terkesan terombang ambing oleh kebijakan Uni Soviet dan Amerika Serikat (AS) yang selama ini dinilai sarat kepentingan baik politik maupun ekonomi.

Dilema Demokratisasi

Sama halnya dengan negara-negara Timur Tengah lainnya, Suriah merupakan negara yang juga terimbas badai revolusi. Sudah setahun revolusi  yang dimotori para aktivis pro-perubahan tersebut berlalu. Namun, situasi politik di Suriah belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Bahkan Basyar Asad bersikeras akan tetap mempertahankan kekuasaannya walaupun harus menggunakan jalur kekerasan. Sikap otoriter rezim Basyar Asad tersebut akhirnya memunculkan gelombang demonstrasi yang menuntut Presiden Basyar Asad mundur dari jabatannya. Para demonstran tersebut menuntut Presiden Basyar Asad untuk melakukan langkah-langkah terkait reformasi politik dan pelaksanaan Pemilu dalam waktu dekat. Tuntutan para demonstran tersebut dijawab pemerintah dengan merombak struktur parlemen dan pemerintahan, namun rakyat tetap menolak karena mereka menganggap struktur pemerintahan masih dijabat orang-orang lama yang tidak lain adalah sekutu dekat Asad.  Suhu politik di Suriah pun semakin memanas setelah pemerintah melakukan operasi militer di beberapa kota termasuk di wilayah Khalidiyah provinsi Homs yang telah menewaskan ribuan orang. Kekejaman yang dilakukan pemerintah pemerintah Suriah tersebut mendorong PBB melalui dewan keamanan PBB untuk mengeluarkan resolusi terhadap Suriah. Namun, resolusi tersebut gagal setelah Cina dan Rusia menolaknya. Sementara itu, negara-negara Barat seperti AS, Perancis dan Inggris menyatakan bahwa pemerintah Suriah tidak lagi sah dan menuntut Presiden Asad melepaskan jabatannya. Reaksi internasional tersebut ditanggapi oleh pihak oposisi di Suriah dengan membentuk Dewan Nasional Suriah sebagai wadah pemersatu bagi gerakan oposisi Suriah termasuk gerakan oposisi terbesar Ikhwanul Muslimin. Guna menandingi kekuatan militer rezim Al-Asad dan melindungi para demonstran, Riyadh Al-Asad yang sebelumnya menjabat sebagai  pemimpin angkatan udara Suriah membentuk Tentara Pembebasan (Al-Jays Al-Hurr) Pembentukan Tentara Pembebasan tersebut jelas semakin memperuncing konflik antara pendukung rezim Al-Asad dengan kubu oposisi.

Dewan Nasional Suriah yang sejak semula bertujuan untuk menggalang aspirasi kelompok oposisi belum sepenuhnya berfungsi malah semakin menemui banyak rintangan baik dalam tataran nasional, regional maupun internasional. Di dalam negeri pemerintah Basyar Asad yang didukung Rusia dan Cina terus melakukan penyerangan terhadap kelompok oposisi di beberapa daerah. Rusia dan Cina merupakan dua negara yang mempunyai kepentingan di Suria. Kota Latakia dan Tartus merupakan basis armada laut Rusia. Karenanya, baik Rusia mapun Cina tidak menginginkan  jika hegemoni AS dengan demokrasi Liberalnya masuk ke Suriah yang dapat mengganggu kepentingan Rusia. Sementara itu Israel yang merupakan sekutu dekat AS sangat diuntungkan dengan berlarutnya konflik yang terjadi di Suriah.. Dengan berlarutnya konflik, Israel dapat leluasa menyerang Hamas di Jalur Gaza yang selama ini mendapat bantuan dari negara-negara Arab seperti Suriah dan Jordania. Senada dengan Israel, AS yang pada mulanya mendukung revolusi Suriah justru semakin khawatir jika kelompok Islam memimpin Suriah seandainya revolusi berhasil, karena jelas akan menghambat kepentingan AS di Timur Tengah terutama dalam mendukung Israel. Terdapat beberapa alasan mengapa selama ini AS terkesan membiarkan krisis yang terjadi di Suriah. Pertama, kondisi politik dalam negeri Suriah yang sedang dilanda konflik dianggap tidak menguntungkan bagi kepentingan politik AS. Kedua, menguatnya pengaruh gerakan Islam seperti Ikhwanul Muslimin di beberapa negara Timur Tengah pasca Arab Spring menjadi kendala tersendiri bagi AS untuk menyerang dan meruntuhkan rezim Basyar Asad yang didukung kelompok Syiah. Ketiga, krisis ekonomi yang melanda negara-negara Eropa mendorong AS untuk mengurangi operasi militernya. Sebagaimana dimaklumi bahwa AS tengah memangkas anggaran militernya akibat krisis finansial yang melanda negeri adidaya tersebut. Pada akhirnya strategi politik yang dimainkan negara-negara seperti AS, Rusia dan Cina dapat menghambat proses demokratisasi dan perdamaian di Suriah yang jika dibiarkan akan mengarah pada perang kawasan yang jelas sangat berbahaya bagi perkembangan sosial, politik dan ekonomi di Timur Tengah.

Akar Konflik

Suriah merupakan negara di wilayah Syam yang berbatasan langsung dengan Turki di sebelah utara, Palestina dan Jordania di sebelah selatan, Lebanon dan Laut Tengah di Barat dan Irak di Timur. Karenanya secara geografis dapat dikatakan bahwa Suriah adalah penghubung antara dua benua, Asia dan Afrika. Letak yang strategis tersebut menjadikan Suriah sebagai wilayah yang diperebutkan berbagai unsur kekuatan global.  Pada mulanya Suriah merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Dinasti Utsmaniyyah yang berpusat di Turki. Namun, pada tahun 1918 dengan dukungan dari Inggris, akhirnya Suriah memisahkan diri dari Daulah Utsmaniyah dan pada tahun 1920 membentuk negara Republik Arab Suriah (Al-Jumhuriyyah Al-Arabiyyah As-Suriyah). Pada tahun 1958-1961 Suriah bergabung dalam pan-Arabisme setelah akhirnya memisahkan diri akibat kudeta militer yang dipimpin oleh Abdul Karim Nahlawy yang tidak lain adalah pengikut Syiah Alawiyah. Pasca kudeta militer, peta politik di Suriah dikuasai oleh Partai Sosialis Ba’ats (Hizb Al-Ba’ats Al-Isytiraki) yang mayoritas anggotanya berasal dari kalangan Syiah Alawiyah. Melalui partai Ba’ats inilah kelompok Syiah Alawiyah berhasil menguasai peta politik Suriah. Hal tersebut tidak terlepas dari dukungan militer yang sejak semula didominasi Syiah. Kelompok ini berhasil memperluas kekuatan militer serta membentuk undang-undang guna membatasi pergerakan kelompok oposisi yang sebagian besar bermazhab Sunni dibawah kendali Ikhwanul Muslimin. Sementara itu dibidang ekonomi, kelompok Syiah Alawiyah yang merupakan minoritas dengan jumlah sekitar 15 persen dari 26 juta penduduk, mampu menguasai berbagai sektor perekonomian di Suriah. Struktur ekonomi Suriah yang berbasis pada sektor perminyakan pun sebagian besar dikuasai oleh keluarga, pejabat partai Ba’ats dan pihak militer. Sikap diskrimanisi yang dilakukan rezim Asad tersebut menimbulkan kecemburuan sosial dari kalangan Sunni hingga berujung pada berbagai macam bentuk perlawanan di beberapa wilayah.

Sejak Syiah Alawiyah berhasil menguasai Partai Ba’ats pada 1955 sentimen anti Sunni pun mengemuka di Suriah. Operasi militer kerap dilakukan pemerintah di beberapa wilayah seperti di Hama pada Februari 1982 yang mayoritas penduduknya Sunni. Perkembangan terakhir pada Februari 2012, pemerintah Asad telah melakukan hal yang sama dengan memborbardir kota Hama hingga mengakibatkan tewasnya ribuan orang di kota tersebut. Dunia internasional seolah menutup mata terhadap kekejaman rezim Asad yang menurut catatan Gerakan Perubahan Nasional Suriah, tentara Assad telah membunuh lebih dari 15.000 orang di beberapa provinsi Suriah. Nampaknya, sulit memprediksi kapan konflik di Suriah akan berakhir dan menyusul keberhasilan “Arab Spring” di Tunisia, Mesir dan Libya yang telah mampu melakukan reformasi sistem pemerintahan.

 

Masa Depan Revolusi

Maraknya pelanggaran HAM yang terjadi di Suriah menimbulkan tanda tanya besar bagi masa depan revolusi di Suriah. Apakah revolusi yang dimulai dengan “Hari Kemarahan Suriah” akan berakhir dengan konflik atau akan menghasilkan demokratisasi layaknya di Tunisia dan Mesir. Nampaknya, sulit diprediksi kapan konflik yang terjadi di Suriah akan berakhir. Kendati demikian, pihak-pihak yang bersengketa di Suriah dituntut untuk melakukan dialog guna mencari sosuli konflik yang kian hari semakin akut tersebut.

Baik rezim Asad maupun kubu oposisi harus mengakhiri konflik yang telah mengakibatkan tewasnya puluhan ribuan orang.  Bila rakyat Suriah bersatu untuk mensukseskan demokratisasi, maka konflik sektarian yang melanda Suriah yang terjadi sejak lama tersebut akan surut. Disamping itu presiden Assad –sebagai pemegang otoritas- diharapkan mampu mengadakan perundingan damai dengan pihak yang bersengketa sehingga bisa terhindar dari perang saudara yang selama ini dikhawatirkan berbagai pihak. Disisi lain, intervensi yang melibatkan kekuatan militer seyogyanya harus dapat dihindari. Sebab dengan adanya campur tangan militer justru menambah kerugian bagi rakyat sipil yang selama revolusi kerap menjadi sasaran pihak militer.

 

 

 

 

 

| Tinggalkan komentar

Ramadhan dan Kemerdekaan Kita

Oleh : Muhammad Fakhry Ghafur

Tak terasa hari demi hari bulan Ramadhan telah kita lalui bersama. Bagi sebagian besar umat Islam Indonesia, Ramadhan memiliki kesan tersendiri terutama terkait dengan peringatan proklamasi kemerdekaan. Tepat pada 17 agustus 1945 atau 9 Ramadhan para founding father memproklamirkan kemerdekaan republik ini. Begitu kuat pengaruh Ramadhan sehingga dapat memotivasi setiap orang beriman untuk meningkatkan ketakwaan pada Allah Swt. Banyak hikmah yang dapat dipetik dan dijadikan pelajaran bagi umat Islam di bulan Ramadhan. Bukankah berbagai peristiwa penting berhasil ditorehkan umat Islam pada bulan Ramadhan. Sebut saja perang Badar 17 Ramadhan 2 Hijriyyah yang berhasil dimenangi kaum muslimin, pembebasan kota Mekkah pada 10 Ramadhan 8 Hijriyyah, perang Tabuk dan lain sebagainya. Ramadhan merupakan momentum yang tepat untuk melepaskan diri dari belenggu hawa nafsu hingga seseorang dapat menjadi insan paripurna.

Urgensi Ramadhan

Dalam beberapa literatur kamus Bahasa Arab, Ramadhan terambil dari akar kata “ar-Ramdha’” yang berarti membakar perbuatan dosa. Melalui asal kata tersebut dapat dilihat bahwa Ramadhan merupakan bulan dimana setiap dosa akan hangus terbakar oleh beragam aktivitas ibadah yang kita lakukan. Betapa mulia dan agungnya bulan Ramadhan, hingga setan-setan pada bulan tersebut dibelenggu dan pintu neraka ditutup serapat-rapatnya serta pintu surga dan rahmat Allah di buka seluas-luasnya. Melalui bulan ini umat Islam dituntut untuk menjadi seorang hamba yang bebas merdeka dari kekangan hawa nafsunya. Mungkin sebagian besar kita bertanya-tanya, pahala apa gerangan yang akan diberikan sekiranya ibadah di bulan Ramadhan telah kita jalani, apa yang akan diperoleh dari malam Nuzulul Qur’an atau malam Lailatul Qadar? Memang kita tidak akan mendapatkan pahala dalam bentuk fisik langsung, tetapi yang terpenting bagi orang yang beriman adalah pahala yang jauh lebih besar dari  dunia dan segala isinya. Yakni, berupa pahala atas kesabaran yang kelak akan kita terima baik di dunia dan akhirat.  Jika seorang muslim mampu mengendalikan hawa nafsunya disertai dengan peningkatan kualitas ibadah selama sebulan penuh, pada akhirnya akan menjadi insan bertakwa yang jiwanya hanya tunduk pada Allah semata, tidak pada godaan-godaan duniawi seperti pangkat, martabat dan jabatan. Demikianlah seharusnya umat Islam menjadi orang merdeka yang dapat menjaga dirinya juga lingkungan sekitarnya dari penindasan, kezaliman dan keruksakan. Layaknya sang Rasul diutus untuk menyelamatkan manusia dari penghambaan terhadap makhluk menjadi penghambaan diri hanya kepada sang Khalik.

Semangat Ramadhan ; Semangat Kemerdekaan

Jika Ramadhan merupakan momentum untuk berjuang melawan rintangan dan godaan hawa nafsu, maka kemerdekaan pada hakikatnya adalah mempunyai spirit yang sama  yaitu berjuang melawan berbagai bentuk penjajahan untuk menentukan nasib sendiri. Teks proklamasi yang dibacakan Soekarno pada 17 Agustus 1945, menunjukkan bahwa bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaan dari segenap bentuk penjajahan. Namun, dibacakannya teks tersebut bukan berarti perjuangan telah usai, masih banyak rintangan dan tantangan yang harus dilalui untuk menjadi bangsa yang merdeka. Bahkan, sampai saat ini kita belum merasa menjadi bangsa merdeka. Masih adanya penjajahan dalam bentuk lain (korupsi, kolusi dan nepotisme) menunjukkan bangsa ini belum merdeka secara total. Karenanya, perjuangan sesungguhnya untuk menegakkan kemerdekaan di negeri ini masih panjang dan berliku. Banyak agenda yang perlu diselesaikan, seperti memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, melaksanakan ketertiban dunia serta perdamaian dan keadilan sosial –sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945-.

Kemerdekaan merupakan hasil dari kerja keras dan kesungguhan para pahlawan. Slogan “merdeka atau mati” tertancap kuat dalam dada para pejuang kemerdekaan. Mereka rela mengorbankan harta, jiwa dan raganya demi terwujudnya Indonesia merdeka. Demikian halnya Ramadhan, umat Islam dituntut bekerja keras dan bersungguh-sungguh untuk memperoleh ketakwaan. “Man Jadda Wajada”. Begitu kata pepatah. Siapa yang bersungguh-sungguh maka dia akan memetik hasilnya. Allah Swt. tidak akan memberikan derajat ketakwaan kepada seseorang secara gratis, tapi dengan ujian dan cobaan terlebih dahulu sampai seorang hamba mampu melaluinya. Sebagaimana firmannya : “Apakah manusia mengiri bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan : “Kami beriman”, sedangkan mereka tidak diuji lagi?” (Q.S.Al-Ankabut : 2). Menahan lapar, haus dan syahwat dari sejak terbitnya matahari sampai terbenamnya adalah ujian yang harus dihadapi orang yang berpuasa untuk bisa menggapai derajat ketakwaan. Maka beruntunglah orang yang dapat berhijrah dari dunia yang terjajah menuju dunia yang merdeka dan mengisinya dengan sesuatu yang positif, sebagaimana umat Islam menjadikan Ramadhan sebagai bulan untuk berhijrah dari derajat muslim dan mukmin menuju derajat yang lebih tinggi yaitu Muttaqin. Pada akhirnya, sinergisitas antara kemerdekaan dan Ramadhan dapat mengantarkan bangsa ini menjadi bangsa yang besar dan mulia dihadapan Allah dan manusia pada umumnya.

 

 

 

| Tinggalkan komentar

Pemilu dan Etnisitas di Libya

Oleh : M.Fakhry.G, Lc, M.Ag

Setelah Mesir sukses menyelenggarakan pemilu juni lalu, kini giliran Libya sukses menggelar pemilu untuk pertama kalinya pasca Khadafi pada 7 Juli lalu. Namun, ditengah kesuksesan tersebut, konflik senjata masih terus berlanjut antara pemerintah (National Transition Council) NTC dengan kelompok bersenjata yang merasa dirugikan baik secara ekonomi maupun politik. Mereka mengancam akan menggagalkan rencana NTC membentuk pemerintah baru. Dalam beberapa hari saja terjadi serangan dari kelompok bersenjata yang berusaha untuk menguasai kantor perwakilan pemilu di kota-kota wilayah timur, termasuk Benghazi tempat lahirnya revolusi 2011. Kendati demikian pemerintah sementara di bawah NTC mengklaim dapat mengendalikan keamanan nasional. Lantas, dapatkah Libya sukses melaksanakan agenda demokratisasinya menyusul susksesnya Tunisia dan Mesir?

Partai Baru
Pemilu pertama pasca lengsernya Muammar Khadafi merupakan Pemilu yang paling bersejarah dalam dinamika politik Libya. Kontan saja, pemilu tersebut mendapat sambutan antusias dari berbagai kalangan. Berdasarkan data dari High National Election Commision (HNEC) Libya, sebanyak 1,7 juta lebih rakyat Libya turut serta dalam pemilu Parlemen. Disamping itu, sekitar 160 partai politik –kebanyakan berasaskan Islam- turut dalam pesta demokrasi yang memperebutkan 80 kursi yang tersedia disamping 120 kursi melalui jalur independen (www.hnec.ly/-). Dari sekian banyak partai politik hanya beberapa partai saja yang memiliki basis massa besar. Diantara partai besar tersebut adalah Partai Keadilan dan Pembangunan yang mengusung tema kampanye seputar ekonomi, persatuan dan keamanan. Meski para elit partai membantah bahwa partainya merupakan representasi dari gerakan Ikhwanul Muslimin (IM) Libya yang didirikan pada tahun 1942, Justice and Development Party (JDP) tetap memiliki basis masa pendukung yang kuat dari kelompok IM dan diyakini sebagai partai yang paling terorganisir serta mewakili kekuatan politik Islam di Libya. Disamping JDP, partai Islam lainnya yang memiliki basis massa yang kuat adalah Partai al-Wathan yang didirikan oleh Abdul Hakim Belhaj, mantan komandan the Libyan Islamic Fighting Group (LIFG). Dengan mengusung program-program nasional dalam kerangka Islam, partai ini mendapat dukungan dari kelompok Salafi yang berpengaruh dibawah pimpinan Ali Ash-Shallabi.
Sementara itu, kekuatan politik kelompok nasionalis- liberal diwakili oleh tiga partai besar yakni, National Forces Alliance (NFA) (Tahaluf al-Qawi al-Wathani) yang dipimpin Mahmoud Jibril dan mendapat dukungan dari organisasi politik, LSM dan ratusan tokoh independen dari kalangan nasionalis. Sedangkan National Centrist Party (NCP) atau partai Tengah didirikan oleh Ali Tarhouni mantan perdana menteri dan yang bertanggung jawab terhadap keuangan kabinet sementara Mahmoud Jibril. Seperti halnya Jibril, Tarhouni melalui partainya mengusung isu-isu keamanan dan penegakkan hukum. Adapun partai nasionalis lainnya adalah National Front Party (NFP), yang didirikan oleh Muhammad Yusuf Al-Magharif, mantan duta besar Libya untuk India pada era Khadafi. Partainya mengusung desentralisasi, HAM, ekonomi, rekonsiliasi nasional dan keamanan. Ketiga partai nasionalis tersebut mengklaim telah memiliki kantor dan basis massa yang besar di beberapa kota di wilayah timur Libya.
Dengan hadirnya beberapa partai besar tersebut, sudah dapat dipastikan akan terjadi pertarungan sengit antara kubu Islamis yang diwakili oleh JDP dan kubu nasionalis-liberal dari NFA, NCP dan NFP. Meski demikian bukan berarti kelima partai besar tersebut lebih diunggulkan dari partai lainnya. Masih ada kekuatan politik lainnya yang menjadi “kuda hitam” dan siap bersaing dalam pentas politik Libya ke depan .
Politik Etnis
Libya merupakan negara dengan jumlah suku atau kabilah terbanyak di Afrika Utara. Terdapat sekitar 114 suku di Libya, dengan beberapa suku besar di wilayah Barat, seperti al-Warfala, at-Tarhunah, al-Warsyifana. Di Timur terdapat suku al-Ubaidat dan al-Awaqir, sedangkan wilayah selatan dihuni mayoritas suku Aulad Sulaiman (keturunan Sulaiman), Az-Zawiyyah, dan Al-Hasawinah. Pada era Khadafi, suku-suku tersebut berada dalam satu kordinasi dan kesepakan atau yang dikenal dengan “al-Kaulasah” yang berada dibawah kontrol pemerintah.
Dalam konteks pemilu Libya, suku-suku tersebut mempunyai peran yang cukup signifikan untuk mendukung kandidat, terutama di daerah pedalaman Libya. Muhammad Taher Syaibani misalnya, salah seorang tokoh dari The Libyan National Gathering Party mengungkapkan, bahwa pada pemilu kali ini dirinya kesulitan memperoleh suara di di daerah-daerah pedalaman dibanding perkotaan yang jauh dari pengaruh kesukuan, terlebih Syaibani bukan merupakan keturunan atau tokoh dari salah satu suku yang ada. (www.al-Jazeera.net). Memang, fanatisme kesukuan dalam politik domestik Libya masih sangat kuat, terutama menjelang Pilpres yang akan diselenggarakan dalam beberapa bulan kedepan. Masing-masing suku dipastikan akan mendukung kandidat yang berasal dari sukunya atau paling tidak mempunyai ikatan kekerabatan dan pengaruh yang besar di daerah nya. Karenanya, dapat dikatakan mustahil kandidat dari suku at-Tarhunah akan menang didaerah mayoritas Bani Walid atau sebaliknya. Lain halnya dengan kandidat yang berasal dari perkotaan di wilayah Timur Libya seperti, Benghazi dan Khumus -dimana seluruh kabilah atau suku berbaur- besar kemungkinan seorang kandidat dapat memperoleh suara signifikan. Dalam pemilu parlemen yang telah dilaksanakan beberapa hari lalu, suara pemilih mencapai 67 persen yang mayoritas berasal dari suku-suku di wilayah timur, barat dan selatan Libya.
Hasil akhir perhitungan suara yang dilakukan Komisi Pemilu Libya (al-Mufawwadhat al-Ulya lil-Intikhabat) pada 17/7 menunjukkan, partai National Forces Alliance (NFA) dari kelompok liberal pimpinan Mahmoud Jibril memperoleh mayoritas suara dengan 39 kursi disusul pesaingnya dari Partai al-Adalah wa al-Bina dengan 17 kursi. Kemenangan tersebut jelas menimbulkan tanda tanya besar dari berbagai kalangan terkait kemenangan kelompok liberal ditengah mayoritas rakyat Libya yang sebagian besar muslim dengan beragam latar belakang kesukuan tersebut, terlebih fatwa Mufti Libya, ash-Shadiq al-Ghiryani yang menyatakan bahwa memilih partai liberal sama dengan kafir. Dari sini penulis dapat melihat beberap faktor yang mendorong kemenangan NFA. Pertama, Mahmoud Jibril dianggap sebagai tokoh revolusi yang sangat karismatik diantara tokoh lainnya, seperti Ali at-Tarhuni dan Muhammad Asy-Syaibani. Sebagai pendiri NTC beliau merupakan tokoh yang berdiri dibarisan paling depan dalam menentang rezim Khadafi. Karenanya, ketika Jibril mendirikan NFA kontan mendapat sambutan dan dukungan yang luar biasa dari berbagai kalangan termasuk dari suku-suku di barat dan selatan Libya. Kekarismatikan Jibril pun ikut mendongkrak suara NFA terutama dari pemilih perempuan sebesar 47 persen. Kedua, terpecahnya umat Islam ikut mempengaruhi perolehan suara dalam pemilu. Sebagaimana diketahui, pasca Revolusi umat Islam Libya terpecah menjadi dua kubu, yang mendukung diberlakukannya syariat Islam dengan kubu dari Islam moderat. Serangan-serangan yang dilakukan kelompok Islam redikal di wilayah Timur dalam beberapa bulan terakhir pun ikut mempengaruhi perolehan suara Hizb al-Adalah wa al-Bina. Berbagai kalangan memandang bahwa umat Islam Libya sekarang lebih dewasa dan lebih memilih jalur demokratis dalam memecahkan setiap persoalan. Terakhir, kemampuan Mahmoud Jibril dalam menyatukan kelompok-kelompok yang bertikai termasuk suku-suku di pedalaman pasca revolusi menjadikan partai yang didirikannya mendapat dukungan penuh di wilayah Timur dan Selatan Libya. Politisi NFA pun dianggap berhasil mengambil simpatik para pemimpin suku-suku dipedalaman yang pasca revolusi mempunyai pandangan dan kepentingan politik masing-masing. Faktor etnisitas inilah yang nampaknya berhasil dimanfaatkan politisi NFA untuk mendulang suara di daerah timur dan selatan Libya. Faktor kesukuan yang selama ini mendominasi seolah pudar oleh popularitas dan sepak terjang Mahmoud Jibril di kancah politik Libya.
Terlepas dari penaruh kuatnya faktor etnisitas dalam pemilu Libya, siapapun yang duduk di parlemen baik dari NFA maupun JDP mempunyai tanggung jawab besar untuk memulihkan kondisi politik dan ekonomi di tengah berkecamuknya perang antar suku di Libya. Bukan hanya sekedar janji-janji manis belaka saat kampanye. (Dimuat di Website P2P LIPI, tanggal 7 Agustus 2012).

| Tinggalkan komentar

Yaman Pasca Shaleh

Oleh : Muhammad Fakhry Ghafur

Selasa, 21 Februari lalu merupakan hari yang paling bersejarah bagi rakyat Yaman. Bagaimana tidak, pada hari itu seluruh rakyat Yaman baik di Utara, Selatan, Timur dan Barat larut dalam gegap gempita pesta demokrasi yang pertama kali diselenggarakan pasca lengsernya Ali Abdullah Saleh dari kursi kekuasaannya. Pemilu tersebut menandai dimulainya era baru dinamika politik Yaman setelah selama kurang lebih 33 tahun berada dalam cengkraman rezim Ali Abdullah Saleh. Kendati demikian, situasi keamanan di Yaman belum sepenuhnya pulih. Presiden terpilih Abdrabuh Mansour Hadi mempunyai tanggung jawab besar dalam memulihkan kondisi sosial, politik dan ekonomi di negara tersebut.

Barat versus Al-Qaeda
Sejak masa pemerintahan Ali Abdullah Saleh, Yaman kerap dilanda konflik bersenjata yang berkepanjangan antara pemerintah dengan berbagai gerakan separatis baik di Utara maupun Selatan. Disamping itu, perang antar suku serta perseteruan antara kelompok anti-pemerintah dan pasukan militer loyalis Saleh, turut memperparah kondisi sosial, politik dan ekonomi dalam negeri Yaman.

Di Yaman Utara muncul Syiah Al-Houti yang melakukan gerakan perlawanan terhadap pemerintah. Kelompok ini menganggap pemerintah pusat yang dikuasai Sunni berlaku diskriminatif terhadap minoritas Syiah di Yaman. Alhasil dengan memanfaatkan situasi yang tidak menentu, kelompok ini pun mengangkat senjata untuk melakukan perlawanan terhadap pemerintah. Tidak hanya disitu kelompok Syiah Al-Houti pun kerap melakukan serangan terhadap sejumlah distrik yang dihuni mayoritas Sunni. Dalam perkembangan terakhir, dengan maksud untuk mendirikan negara sendiri di wilayah Utara, kelompok Al-Haouti kerap melakukan berbagai ancaman serangan pada pelaksanaan pemilu selasa lalu guna menggagalkan pesta demokrasi tersebut. Kendati demikian, pemerintah baru Yaman dengan bantuan Militer berhasil meredam berbagai serangan kelompok Syiah tersebut.

Sama halnya dengan di Utara, di Selatan Yaman, muncul gerakan Al-Qaeda semenanjung Arab (AQAP) yang dalam beberapa dekade terakhir semakin giat melakukan perlawanan terhadap pemerintah. Dengan dalih perang melawan terorisme, Amerika Serikat dan negara-negara Barat pun memanfaatkan keadaan untuk menyerang balik gerakan AQAP yang dianggap paling bertanggung jawab terhadap munculnya aksi terorisme di berbagai negara . Memang, sejak tragedi WTC 11 September 2001, dengan dalih perang melawan terorisme, AS rela mengucurkan puluhan miliyar dollar untuk membantu pemerintah Yaman dalam membasmi gerakan mujahidin AQAP. Inilah yang menjadi penyebab mengapa AS banyak melakukan intervensi politik di Yaman dan secara diam-diam melakukan operasi rahasia dengan melibatkan banyak agen CIA di negara tersebut.

Tidak dapat dipungkiri bahwa Yaman Selatan merupakan basis gerakan AQAP dan banyak melahirkan para aktivis militan. Sebut saja misalnya, sebagian besar tahanan yang tercantum dalam tahanan di Guantanamo berasal dari Yaman Selatan. Disamping itu, pengawal-pengawal Usamah bin Laden yang banyak diburu AS pun kebanyakan berasal dari kawasan ini. Pasca revolusi yang terjadi di Yaman belum lama ini, AQAP semakin mempunyai berpengaruh di tengah rakyat Yaman khususnya dalam melakukan perlawanan terhadap pemerintah yang didukung AS dan negara-negara Barat. Mereka menganggap bahwa hasil kekayaan minyak dari Selatan lebih banyak dinikmati oleh pemerintah yang didominasi orang-orang Utara. Situas tersebut jelas tidak akan dibiarkan begitu saja oleh AS yang akan memberikan implikasi yang serius terhadap stabilitas keamanan di kawasan tersebut. AS dan negara-negara Barat khawatir jika nantinya Yaman akan menjadi “bom waktu” yang lebih dahsyat dibandingkan dengan negara Timur Tengah lainnya. Jika AQAP berkuasa dan memiliki pengaruh yang kuat di Yaman maka secara otomotis akan mengganggu kepentingan strategis AS di Timur Tengah.
Ditengah kondisi konflik yang sangat akut tersebut, nampaknya stabilitas keamanan negara harus menjadi prioritas pemerintahan baru pimpinan Mansour Hadi. Presiden terpilih harus mampu merangkul berbagai elemen baik di Utara maupun Selatan guna keluar dari kemelut yang berkepanjangan tersebut. Sebab, jika stabilitas keamanan terjaga maka pemerintahan baru akan dapat bekerja secara optimal dalam memulihkan kondisi sosial, politik dan ekonomi Yaman.

Yaman Baru
Ditengah perasaan pesimis berbagai kalangan perihal masa depan Yaman yang penuh dengan konflik, Yaman masih mempunyai harapan untuk membangun negara. Pemilu pertama yang telah dilaksanakan belum lama ini setidaknya dapat dijadikan langkah awal bagi seluruh rakyat Yaman untuk membangun iklim yang lebih demokratis.

Walaupun pemilu pertama pasca-Saleh tersebut hanya diikuti oleh satu kandidat, namun Yaman kini telah memiliki pemimpin baru. Era Saleh telah berlalu seiring revolusi yang terjadi, Mansour Hadi sebagai pemimpin baru harus siap dengan segala resiko untuk mengemban tugas perubahan. Banyak “PR” yang harus dijalankan pemerintahan baru era Saleh diantaranya, pemulihan stabilitas keamanan domestik, meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan menekan angka kemiskinan dan pengangguran, membangun iklim politik yang lebih demokratis.
Kendati demikian, Mansor Hadi merupakan sosok pemimpin baru yang sebenarnya masih mempunyai hubungan baik dengan Abdullah Saleh maupun AS. Dengan demikian, Yaman pasca Saleh sebenarnya masih berada dalam bayang-bayang Saleh dan AS yang mempunyai kepentingan terhadap minyak dan perang terhadap terorisme global. Tidak mudah bagi rakyat Yaman “pro-perubahan” untuk mewujudkan perubahan ditengah dominasi kroni rezim dan hegemoni AS. Upaya menuju Yaman baru yang aman dan demokratis memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, diperlukan kontrol yang intensif dari seluruh komponen rakyat, baik melalui pendekatan politik maupun memperkuat konsolidasi masyarakat. Disamping itu, pemerintah baru juga harus mempunyai komitmen untuk menyatukan berbagai suku yang tengah bersengketa agar dapat keluar dari kemelut yang berkepanjangan. Wallahu ‘Alam.

| Tinggalkan komentar

Menanti Kehancuran Israel


Oleh : Muhammad Fakhry Ghafur

Beberapa waktu lalu, tepatnya pada 22/02/2012, umat Islam digemparkan dengan penyerangan yang dilakukan oleh sekelompok Yahudi ortodok terhadap Masjidil Aqsa. Penyerangan terhadap Masjidil Aqsa tersebut bukan kali pertama dilakukan oleh Yahudi.  Pada 21 Agustus 1969, sekolompok Yahudi melakukan pembakaran terhadap Masjidil Aqsa hingga sebagian masjid hangus terbakar. Peristiwa dilatarbelakangi oleh keinginan Yahudi untuk mendirikan Haekal Sulaiman di lokasi Mesjidil Aqsa berdiri. Sejak saat itu kebrutalan “bangsa kera” semakin menjadi-jadi dengan melakukan pengruksakan dan Yahudisasi di sekitar kawasan Al-Quds. Memang, sepanjang sejarahnya bangsa Yahudi kerap melakukan pengruksakan di muka bumi, dimanapun mereka berada. Hal tersebut sesuai dengan janji Allah Swt. dalam firman-Nya : ” Dan telah Kami tetapkan bagi Israil dalam al-Kitab itu : “Sesungguhnya kamu akan membuat keruksakan di muka bumi dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar”.(QS.Al-Isra : 4). Dan Firman-Nya : “Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.” (QS.Al-Maidah : 32).

Sejarah manusia pun banyak mecatat peristiwa kejahatan yang dilakukan oleh Bani Israil. Makar Jahat mereka mulai nampak pertama kali pada masa Nabi Ya’qub a.s., moyang mereka. Ketika mereka hendak menyingkirkan saudaranya sendiri, Nabi Yusuf a.s. yang berakhlak mulia dan lebih dicintai oleh bapaknya. (QS.Yusuf : 7-18). Bani Israil pun kerap melakukan pembunuhan terhadap para Nabi dan orang-orang Saleh. Nabi Yahya, Zakaria dan Isa tidak luput dari makar jahat mereka, hingga keduanya pun terbunuh kecuali Nabi Isa yang diselamatkan oleh Allah Swt dari recana busuk Bani Israil.

Begitu juga pada masa Rasulullah Saw kaum Yahudi dengan berbagai cara berusaha untuk mengkhianati dan membunuh Rasulullah. Pengkhiantan pertama dilakukan oleh Yahudi Bani Qainuqa’. Kejadian bermula ketika seorang muslimah yang berada di pasar diganggu sekelompok Yahudi sampai memicu kemarahan seorang muslim yang berakibat terbunuhnya seorang dari mereka. Orang-orang Yahudi yang ada dipasar tersebut pun marah dan membunuh orang muslim tersebut. Hingga ahirnya keluarga orang muslim tersebut meminta pertanggung jawaban Yahudi. Rasulullah pun memerintahkan kepada kaum muslimin untuk melakukan pengepungan terhadap Bani Qainuqa’, pengepungan terjadi selama 15 hari dan beliau memerintahkan mereka untuk meninggalkan Madinah. Adapun pengkhianatan kedua dilakukan oleh Yahudi Bani Nadhir,  ketika Rasulullah datang ke perkampungan mereka untuk meminta diyat terhadap pembunuhan yang dilakukan orang Yahudi terhadap dua orang Muslim dari Bani Amir. Pada saat Rasulullah bersandar didinding rumah mereka, Yahudi pun berencana untuk membunuh Rasulullah. Namun atas izin Allah Swt. Rasullullah selamat dari rencana jahat mereka. Kemudian beliau memerintahkan untuk melakukan pengepungan terhadap Bani Nadhir sampai akhirnya mereka keluar dari Madinah. Sedangkan pengkhianatan ketiga Yahudi dilakukan oleh Bani Quraizah, ketika tuk pasukan koalisi dengan berbagai suku. Peristiwa tersebut menggoyahkan kaum muslimin sampai akhirnya Allah memberikan pertolongan dan pasukan koalisi tersebut hancur. Rasulullah pun memerintahkan kaum muslimin untuk menuju perkampungan Bani Quraizah dan mengepungnya selama 25 malam sampai orang-orang Yahudi ketakutan dan memohon kepada Rasulullah untuk keluar dari Madinah. Tetapi Rasulullah melarang dan menghukum mereka dengan hukuman yang lebih berat dari Bani Qainuqa’ maupun Bani Nadhir. Atas saran dari Saad bin Muadz, kaum lelaki dieksekusi, wanita dan anak-anak menjadi tawanan. Peristiwa tersebut diabadikan dalam Al-Qur’an melalui firman-Nya : Hai orang-orang yang beriman ingatlah akan nikmat Allah kepadamu, ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan. Yaitu ketika datang (musuh) dari atas dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatanmu dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan, dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka disitulah diuji orang-orang mukmin, dan digoncangkan hatinya dengan goncangan yang sangat”. (QS. al-Ahzab: 9-11).

Berbagai pengkhianatan dan maker kejahatan bangsa Yahudi tersebut nampaknya masih berlanjut sampai sekarang, dimana berbagai perjanjian perdamaian antara Yahudi Israel dan kaum Muslimin kerap dilanggar. Mulai dari perjanjian Oslo 1993, Wye River 1998, KTT Camp David 2000 dan sebagainya. Perjanjian demi perjanjian tak diindahkan oleh Israel ketika mereka banyak melakukan penyerangan dan perampasan terhadap hak-hak rakyat Palestina. Puncaknya ketika Israel memblokade Gaza pada tahun 2006 dan melakukan serangan udara 2008 hingga membunuh ribuan rakyat Palestina. Berbagai tekanan dari dunia internasional pun tidak digubris Israel, bahkan mereka akan tetap melanjutkan pembangunan pemukiman Yahudi dan melakukan penyerangan serta keruksakan di sejumlah wilayah Palestina. Pada Mei 2010, mata dunia semakin terbuka lebar melihat kekejaman Israel, ketika tentara Israel menembaki kapal Bantuan Mavi Marmara yang membawa ratusan relawan dan belasan ton bantuan kemanusiaan. Peristiwa tersebut jelas memperburuk citra Israel dimata dunia internasional. Peristiwa kejahatan yang disebutkan diatas hanya sebagian kecil dari ribuan kejahatan dan pengrusakan yang dilakukan Israel di tanah Palestina. Karenanya, kehancuran Israel yang tinggal menunggu waktu tersebut akibat ulah kejahatan dan pengkhianatan yang dilakukan bangsa mereka sendiri.

Kehancuran Israel

Sekarang mari kita analisis lebih dalam prediksi Al-Qur’an tentang kehancuran Yahudi Israel. Dalam Al-Qur’an Allah Swt berfirman : “(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu.” (QS.Al-Maidah : 26). Dalam ayat tersebut Allah Swt berfirman bahwa akan ada pergantian generasi selama 40 tahun baik dari segi karakteristiknya maupun jiwanya. Disamping itu, Allah Swt mengharamkan negeri Mesir bagi mereka selama 40 tahun pula.

Dalam Aspek historis pada perang salib pertama kaum muslimin mengalami kekalahan dan dikuasai selama 40 tahun. Kemudian 40 tahun kemudian kaum muslimin bangkit dan mampu menguasai tanah Palestina. Jika kita bandingkan dengan apa yang terjadi di Palestina, maka ketika pada tahun 1948, Israel berhasil menguasai dan menjajah Palestina, barulah setelah 40 tahun muncul gerakan Intifada pertama tepatnya pada tahun 1987. Kendati pada saat itu kaum muslimin tidak secara keseluruhan mampu menguasai Palestina, namun gerakan perlawanan tersebut membuat takut Israel dan berhasil membuka mata dunia akan kekejaman Israel selama ini. Sampai akhirnya mengalir dukungan dari dunia Islam.

Saat ini kita tengah menantikan 40 tahun selanjutnya akan kehancuran Israel, tepatnya pada 2027. Jika kita sekarang berada di tahun 2012, maka sekitar 15 tahun lagi Israel akan dikalahkan oleh pasukan Islam. Dalam sebuah wawancara dengan wartawan New York Times, pendiri gerakan Hamas Syaikh Ahmad Yasin mengatakan : “Sudah saya katakana berulang-ulang bahwa tahun 2027 akan menjadi saksi kehancuran Israel dan saya yakin Israel akan hancur dan kami bangsa Palestina akan memperoleh kembali tanah dan rumah yang dirampas Israel tahun 1948”. Namun, kemenangan tersebut tidak akan dicapai melainkan dengan persatuan seluruh kaum muslimin. Tetapi, jika kaum muslimin terpecah belah maka harapan untuk merebut tanah Palestina hanya mimpi belaka.

Lantas siapakah yang akan menghancurkan Israel tersebut?Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda : “Akan muncul dari Khurasan (Afganistan) pasukan dengan bendera-bendera hitam, maka tidak ada seorang pun yang dapat mencegahnya sampai bendera-bendera tersebut ditancapkan di Eliya (Al-Quds)” (HR.Ahmad, Tirmidzi dan Nu’aim bin Hammad).

Kendati kita tidak tahu kapan Israel akan hancur dan siapa yang menhancurkannya, namun setidaknya sinyal kearah tersebut sudah mulai nampak. Kemenangan partai-partai Islam pasca revolusi yang terjadi di beberapa negara Timur Tengah dapat menjadi sinyal akan bangkitnya kekuatan Islam yang dapat menghentikan pengkhianatan dan keruksakan yang dilakukan Israel selama ini. Wallahu’alam bishawwab.

| Tinggalkan komentar

Masa Depan Libya Pasca-Qadafi

Oleh : Muhammad Fakhry Ghafur

Setelah selama kurang lebih enam bulan melakukan pertempuran dan berhasil menguasai beberapa kota penting di Libya, akhirnya pasukan pemberontak di bawah komando National Trancition Council (NTC) yang didukung NATO berhasil memasuki Tripoli dan mengklaim telah menguasai 70 persen wilayah tersebut. Bahkan, pasukan pemberontak berhasil menguasai Bab al-Aziziyah sebagai benteng pertahanan utama kekuatan militer Qadafi. Dengan dikuasainya Tripoli oleh pemberontak, menandakan babak baru perjuangan revolusi yang dimulai sejak pertengahan Februari lalu di Benghazi. Kemenangan kubu NTC pun disambut suka cita oleh segenap rakyat Libya yang merindukan pergantian kepemimpinan. Peristiwa tersebut sempat menjadi headline berbagai media massa di dunia dan menyebutnya sebagai akhir dari kepemimpinan rezim yang telah berkuasa selama 42 tahun. Yuriko Koike, mantan menteri Pertahanan dan Penasihat Keamanan Nasional Jepang, menyebut sebagai The Last Days of Gaddafi. Hancurnya kekuatan militer ditambah perpecahan dalam kubu Qadafi dengan membelotnya beberapa orang kroninya, mulai dari Mustafa Abdul Jalil, Abdul Fatah Younis, Ali Tarhouni, Al-Issawi, hingga yang terakhir kepala perusahaan minyak Libya Omran Abukraa, menandakan runtuhnya kekuasaan rezim dan akan berakhirnya konflik di Libya. Adapun bagi NTC maupun NATO, peristiwa tersebut merupakan momentum yang tepat untuk mengakhiri kekuasaan Qadafi dan membuangnya ke tempat sampah sejarah, serta akhir sebuah era di mana selama 42 tahun hak-hak dan kebebasan rakyat dirampas. Bahkan, bisa jadi merupakan Ramadhan terakhir bagi Qadafi dan Ied (kemenangan) tidak hanya untuk rakyat Libya, tetapi juga seluruh bangsa Arab yang menghendaki tegaknya demokratisasi di kawasan serta menjadi perayaan Idul Fitri terbaik sejak perang Ramadhan tahun 1973 melawan Israel. Dalam konteks politik domestik, keberhasilan pasukan pemberontak tersebut merupakan langkah awal untuk menggalang kekuatan (solidaritas) dengan berbagai etnis dan suku yang ada di Tripoli karena Tripoli merupakan kota di mana berbagai macam etnis dan suku di Libya membaur untuk mencari penghidupan. Dengan dikuasainya Tripoli, akan memudahkan NTC untuk menyatukan suku dari berbagai daerah ketika mereka melihat angin perubahan. Karena itu, keamanaan dan wacana perubahan ke era baru harus betul-betul diperlihatkan oleh kubu NTC kala mereka telah menguasai Tripoli. Keberhasilan tersebut dapat dijadikan momentum untuk membangun kemitraan yang sinergis dengan berbagai elemen, seperti NFSL, Partai Demokrat Libya, dan Ikhwanul Muslimin, atau bahkan gerakan lainnya untuk merumuskan langkah-langkah transisi, membentuk dewan eksekutif, legislatif, yudikatif, penegakan HAM, dan kebebasan media hingga melaksanakan pemilu dalam waktu delapan bulan ke depan sebagaimana yang diungkapkan oleh ketua NTC Abdul Jalil, beberapa waktu lalu. Sejak meletusnya konflik pertengahan Februari lalu, perekonomian Libya mengalami penurunan secara drastis, inflasi meningkat, angka pengangguran membengkak, dan kemiskinan merebak hampir ke seluruh penjuru negeri akibat terhentinya pasokan kebutuhan pokok. Bahkan, krisis politik yang terjadi di Libya berdampak pada stabilitas ekonomi global dengan naiknya harga minyak dunia. Karena itu, masa depan Libya sangat ditentukan oleh langkah-langkah brilian Dewan Transisi Nasional atau pemerintahan baru pasca-Qadafi dalam memulihkan stabilitas ekonomi dalam negeri. Hal tersebut bisa terwujud jika mampu mengoptimalkan sumber daya alam Libya yang melimpah, terutama dari sektor minyak bumi dan gas alam serta meningkatkan peran masyarakat dalam perekonomian (economic society) yang selama ini diabaikan oleh rezim Qadafi. Tugas selanjutnya adalah merekonstruksi undang-undang dan penegakan hukum. Sejak bergulirnya revolusi Al-Fatih yang dipimpin Qadafi tahun 1969, konstitusi yang berlaku di Libya adalah kitab Al-Akhdhar beserta syarah (penjelasannya) yang disusun Qadafi pada 1976. Kitab Al-Akhdhar terdiri atas tiga jilid, pertama tentang solusi demokrasi, kedua tentang ekonomi, dan ketiga tentang teori dunia ketiga. Konsolidasi nasional Sebagai negara dengan latar belakang etnis dan suku yang beragam, Dewan Transisi Nasional dituntut untuk secepatnya melakukan konsolidasi nasional. Walaupun banyak kalangan memandang positif terhadap revolusi yang terjadi di Libya, beberapa suku tetap mempunyai loyalitas yang tinggi terhadap Qadafi, khususnya di daerah-daerah pedalaman. Sistem kesukuan memang masih merupakan suatu yang sangat fundamental di Libya melebihi negara lain di kawasan Afrika Utara. Kebanyakan keluarga di Libya membawa nama suku karena orang dapat dengan mudah mengidentifikasi suku seseorang hanya dengan mengetahui nama keluarganya. Terdapat kurang lebih 140 suku di Libya. Sejak revolusi 1969, mayoritas suku mendukung pemerintahan Qadafi, namun pascapecahnya konflik suku-suku di Libya, tiap suku mempunyai pandangan politiknya sendiri dalam menyikapi krisis politik yang terjadi. Suku Al-Qadzdzafah, misalnya, yang mayoritas penduduknya bermukim di Sirte, tempat kelahiran Qadafi, mendukung penuh terhadap pemerintahan rezim dan menolak bergabung dengan pemberontak. Suku ini sangat berpengaruh dan berkuasa di Libya sejak Qadafi memimpin. Begitu juga dengan suku Warfallah, kelompok suku terbesar di Barat Libya, yang menghuni daerah Bani Walid, Sirte, Dernah, Misrata, dan Benghazi. Mansour Khalaf sebagai kepala suku menyatakan dukungannya terhadap Qadafi dan menolak bergabung dengan pemberontak. Tetapi, setelah sebagian besar wilayah yang dihuni suku Warfallah di Dernah, Misrata, dan Benghazi dikuasai pemberontak, suku ini pun bergabung untuk mendukung revolusi. Kemudian, di selatan-barat Tripoli, terdapat suku Al-Mujabra yang memunculkan salah satu tokoh dewan revolusi 1969 dan orang kepercayaan Qadafi, yakni Abdul Fatah Younis Jaber. Sama halnya dengan al-Qadzdzafa, suku ini memberikan dukungan penuh terhadap rezim Qadafi. Adapun di wilayah tengah barat Libya terdapat suku al-Megrahi yang merupakan sekutu kuat al-Qadzdzafa yang mendukung rezim Qadafi. Suku ini menghasilkan para pejuang revolusioner, seperti Abdussalam Jalloud, mantan perdana menteri era Qadafi, dan Abdel Baset Al-Megrahi, salah seorang tokoh yang dituduh sebaga pelaku bom Lockerbie. Adapun suku yang berasal dari timur Libya, seperti suku Zawiya, Bani Salim, Misratha, dan Al-Waqir, serta suku-suku kecil lainnya di timur, menjadi penentang rezim Qadafi sejak bergulirnya revolusi pertengahan Februari lalu. Pada masa kolonialisme Italia, suku-suku di Libya pernah bersatu menggalang kekuatan untuk mengusir penjajah di bawah pimpinan Omar al-Mukhtar. Karena itu, alangkah baiknya jika pemerintahan transisi di bawah pimpinan Mustafa Abdul Jalil mampu mempersatukan berbagai suku di Libya. Karena itu, dialog dan konsolidasi berkesinambungan perlu dilakukan untuk menghindari konflik horizontal antarsuku. Pada era revolusi, tepatnya pada tanggal 6 Mei 2011, Pemerintah Libya berusaha untuk mempersatukan suku-suku tersebut dalam sebuah forum yang digelar di Tripoli. Forum tersebut menghasilkan beberapa pernyataan, antara lain, pertama, menekankan pentingnya gencatan senjata untuk mengakhiri konflik di Libya. Kedua, tidak mendukung salah satu kubu yang bertikai. Ketiga, menolak intervensi asing terhadap krisis yang terjadi Libya dan mendorong dunia internasional untuk mencabut zona larangan terbang yang ditetapkan PBB. Terakhir, Dewan Transisi Nasional harus mampu untuk menghilangkan bayang-bayang AS dan NATO selama proses transisi menuju demokrasi di Libya. Sebagaimana diketahui bahwa AS dan negara-negara Barat mempunyai kepentingan, baik politik maupun ekonomi, dengan melakukan intervensi militer di Libya. Menteri Pertahanan AS Robert Gates mengatakan bahwa dana yang akan dikeluarkan oleh AS sebesar 750 juta dolar. Dengan dana besar yang dikeluarkan AS untuk perang Libya, bukan berarti AS maupun NATO akan begitu saja meninggalkan Libya pasca-Qadafi. (Dimuat di Republika, 3 September 2011).

| Tinggalkan komentar

Revitalisasi Peran Indonesia di OKI

Oleh : Muhammad Fakhry Ghafur

Krisis politik yang melanda negara-negara anggota OKI sejak awal Januari 2011 menunjukkan bahwa dunia Islam saat ini membutuhkan role of model dalam proses transisi dan demokrasi. Sebagai salah satu anggota OKI dengan jumlah penduduk mayoritas beragama Islam terbesar di dunia, Indonesia dituntut untuk memberikan kontribusi nyata dalam upaya mencapai perdamaian di kawasan Timur Tengah. Indonesia dipandang mampu untuk berperan sebagai teladan (role of model) bagi keserasian antara Islam, modernitas dan demokrasi damai, serta sebagai bridge builder hubungan Barat dan Islam. Tuntutan untuk ikut berperan dalam upaya perdamaian bagi Negara-negara anggota termasuk Indonesia sejalan dengan Mecca Declaration and Ten-Years Program of Actions Organization of The Islamic Conference (TYPOA-OIC) yang tidak hanya fokus pada isu politik, tetapi juga isu-isu pembangunan, sosial, ekonomi dan ilmu pengetahuan. Melalui deklarasi ini, OKI diharapkan mampu membangun nilai-nilai toleransi, modernitas, demokrasi, memerangi terorisme, membendung Islamophobia, meningkatkan kerjasama dan solidaritas antar negara anggota, conflict prevention, penanggulangan masalah Palestina, Filipina Selatan, Kashmir yang tak kunjung usai, serta masalah-masalah yang terjadi di Timur Tengah dan Afrika Utara. Lantas, bagaimanakah Indonesia menempatkan partisipasi dan kontribusinya di OKI sebagai bagian integral dari kepentingan diplomasi dan politik luar negerinya? Langkah apa saja yang ditempuh Indonesia dalam proses transformasi yang kini tengah berlangsung di OKI? Sejarah Indonesia di OKI mengalami dinamika yang cukup unik. Keanggotaan dan peran aktif Indonesia di OKI bermula sejak Organisasi Islam terbesar di dunia ini berdiri pada 25 September 1969, karena Indonesia merupakan salah satu dari 24 negara yang hadir dalam KTT I di Rabat, Maroko yang merupakan awal berdirinya OKI. Sejak saat itu peran Indonesia di OKI mengalami pasang surut. Pada tahun-tahun pertama peran Indonesia di OKI masih terbatas, bahkan keanggotaan Indonesia di OKI sempat menjadi perdebatan, baik oleh kalangan OKI maupun di dalam negeri. Ketika piagam pertama OKI dicetuskan pada tahun 1972, Indonesia menolak untuk menandatanganinya dan menahan diri untuk menjadi anggota resmi karena berdasarkan UUD 1945, Indonesia bukanlah negara Islam. Demikian juga dengan politik luar negeri Indonesia yang Bebas Aktif, tidak mendasarkan pada nilai-nilai Islam. Namun, karena tuntutan aspirasi dan politik dalam negeri, maka Indonesia memulai berperan ‘aktif’ di OKI pada tahun 1990-an, ketika presiden Soeharto untuk pertama kalinya hadir dalam KTT ke-6 OKI yang diselenggarakan di Senegal, Desember 1991. Kehadiran presiden Soeharto tersebut merupakan langkah awal perubahan kebijakan politik luar negeri Indonesia untuk berpartisipasi lebih aktif di OKI, meskipun peran Indonesia di OKI tidak terlalu dominan sebagaimana perannya di forum kerjasama multilateral seperti ASEAN dan GNB (Gerakan Non Blok).Beberapa peran aktif Indonesia di OKI yang menonjol adalah ketika pada tahun 1993 Indonesia menerima mandat sebagai ketua Committee of Six, yang bertugas memfasilitasi perundingan damai antara Moro National Liberation Front(MNLF) dengan pemerintah Filipina. Kemudian pada tahun 1996, Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Menteri (KTM-OKI) ke-24 di Jakarta.Selain itu, Indonesia juga memberikan kontribusi untuk mereformasi OKI sebagai wadah untuk menjawab tantangan umat Islam memasuki abad ke-21. Pada penyelenggaraan KTT OKI ke-14 di Dakar Senegal, Indonesia mendukung pelaksanaan OIC’s Ten-Year Plan of Action.Dengan diadopsinya piagam ini, Indonesia memiliki ruang untuk lebih berperan dalam memastikan implementasi reformasi OKI tersebut. Indonesia berkomitmen dalam menjamin kebebasan, toleransi dan harmonisasi serta memberikan bukti nyata akan keselarasan Islam, demokrasi dan modernitas.

Bagi Indonesia, OKI merupakan wahana untuk menunjukkan citra Islam yang santun dan moderat. Sebagaimana yang ditunjukkan Indonesia pada dunia internasional dalam pelaksanaan reformasi 1998 serta kemampuan Indonesia melewati transisi menuju negara yang demokratis melalui penyelenggarakan pemilihan umum legislatif ataupun pemilihan presiden secara langsung yang berjalan dengan relatif baik. Pengalaman Indonesia tersebut dapat dijadikan rujukan bagi negara-negara anggota OKI lainnya, khususnya negara-negara di Timur Tengah dan Afrika Utara yang sedang mengalami proses demokratisasi.

Dalam mengatasi konflik Aceh, Indonesia mampu belajar dari pengalaman bahwa puluhan tahun perseteruan Indonesia-GAM hanya bisa diselesaikan melalui perjanjian damai yang saling menguntungkan bukan dengan jalan kekerasan yang memakan korban banyak jiwa. Selain itu berbagai keberhasilan Indonesia yang didukung berbagai pihak dalam menyelesaikan konflik yang terjadi di Poso, Sulawesi Tengah mampu dijadikan nilai tambah bagi Indonesia di mata negara-negara yang tergabung dalam OKI. Indonesia dapat mengambil sejumlah peluang dengan menjadikan OKI sebagai Organisasi multilateral non-PBB yang dapat memberikan kontribusi nyata bagi kepentingan Indonesia di kancah internasional. Melalui OKI, Indonesia juga dapat menawarkan program-program nasional yang bisa dikembangkan oleh negara-negara anggota OKI lainnya. Sebagai contoh peningkatan pembangunan ekonomi, program anti korupsi, Good Governance, penegakkan HAM, dan hak-hak perempuan.

Peluang Indonesia untuk memimpin OKI semakin terbuka pada KTT OKI 2014 yang akan diselenggarakan di Jakarta. Pemerintah Indonesia memiliki modal dasar yang kuat terkait peranan-peranan di dunia internasional: Pertama, sebagai negara muslim terbesar di dunia Indonesia menjadi kekuatan penting pada abad ke 21 terkait dengan pembangunan demokrasi. Di dunia Islam–selain Malaysia dan Turki-konsep demokrasi dan toleransi sulit diterapkan secara penuh oleh negara-negara anggota OKI. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan munculnya konflik kekerasan hingga memakan korban jiwa yang tidak sedikit dalam pelaksanaan demokrasi di kawasan Timur Tengah. Kedua, sebagai ketua ASEAN, posisi Indonesia semakin diperhitungkan. Permasalahannya adalah mampu tidaknya pemerintah mengelola potensi strategis sebagai ketua ASEAN tersebut.

Ketiga, Letak geografis Indonesia yang sangat strategis dapat membantu meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan Indonesia dan kawasan sekitarnya. Disamping itu, jabatan yang diemban Indonesia sebagai ketua Parliamentary Union of OIC Member States (PUIC) pada sidang keenam di Kampala, Uganda Januari 2011, memberikan kesempatan lebih bagi Indonesia untuk lebih vokal dalam menyuarakan kebijakan luar negeri dan kepentingannya. Dalam PUIC, Indonesia dapat berperan untuk mendorong peningkatan kinerja OKI ditengah tantangan globalisasi. PUIC menjadi salah satu kekuatan yang diperhitungkan tidak hanya oleh dunia Islam, tetapi juga oleh Barat. Dengan mengoptimalkan peran PUIC, OIC dan subsidiary organs diharapkan dapat mengurangi ketergantungan dunia Islam terhadap negara Barat dalam penyelesaian masalah di negara-negara anggotanya.

Berbagai peluang ini harus mampu dimanfaatkan oleh Indonesia meski ada beberapa tantangan yang harus dihadapi Indonesia dalam mereformasi peran OKI kedepan. Misalnya, masalah kepentingan politis dan perbedaan pendapat antar negara anggota OKI sering mempersulit bagi OKI untuk menampilkan sikap yang jelas. Hal ini terlihat ketika negara-negara Arab memiliki perbedaan sikap mengenai Palestina yang hingga saat ini masih belum menemukan penyelesaian. Tantangan lain adalah posisi geografis Indonesia yang tidak berdekatan dengan titik pusat peta dunia Islam (Peripherial Position), memunculkan kekhawatiran bagi Indonesia untuk memberikan pengaruhnya kepada negara-negara di kawasan Timur Tengah.

Tantangan lain seperti dikemukakan oleh Saad S.Khan, dalam bukunya Reasserting International Islam : a focus on the organization of the Islamic conference and other Islamic Institusions adalah adanya empat kondisi yang menghambat kinerja OKI yaitu meningkatnya jumlah negara angota hingga mencapai 57 negara yang mengakibatkan sulitnya menentukan konsensus (kesepakatan), munculnya perbedaan kepentingan antara negara yang maju dan berkembang, piagam OKI yang dinilai belum dapat menampilkan susunan organisasi dan pola hubungan organisasi yang jelas, serta kekuatan finansial OKI yang masih lemah.

Oleh karena itu, dalam menghadapi tantangan-tantangan tersebut Indonesia harus mampu mengoptimalkan perannya di kancah Internasional, seperti dalam G20, dimana Indonesia bisa bekerjasama dengan Arab Saudi dan Turki untuk membangun poros strategis dalam mempersatukan dunia Islam. Disamping itu Indonesia dituntut untuk memperbaiki citranya dihadapan negara-negara Arab, khususnya berkaitan dengan masalah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) serta meningkatkan perekonomian melalui kerjasama antar negara-negara anggota OKI, sehingga dengan kekuatan ekonomi tersebut dapat dijadikan modal untuk membangun dunia Islam yang bebas dari pengaruh hegemoni Barat.


| Tinggalkan komentar

Dinamika Politik di Libya : Menuju Era Kepemimpinan Baru

 

Krisis politik yang terjadi di Timur Tengah dan Afrika Utara akhir-akhir ini seakan mengingatkan memori kita pada peristiwa reformasi di Indonesia tahun 1998. Ketika dominasi kekuasaan rezim otoriter dan berbagai ketidakadilan terjadi maka luapan ketidakpuasan tinggal menunggu waktu kemunculannya.  Di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara, luapan ketidakpuasan yang tergambar pada berbagai aksi demonstrasi yang marak terjadi baru-baru ini kemudian berujung pada terjadinya krisis politik serta tumbangnya rezim Zine El-Abidine Ben Ali di Tunisia dan Hosni Mubarok di Mesir.  Pusat Penelitian Politik (P2P) LIPI mengadakan diskusi internal dengan topik “Dinamika Internal Politik Libya: Menuju Kepemimpinan Baru” sebagai bentuk sharing knowledgemengenai isu internasional kontemporer  yang dilakukan pada Selasa 8 Maret 2011 pukul 10.00-12.00. Muhammad Fakhry Ghafur, Lc, M.Ag, peneliti muda yang menyelesaikan pendidikan sarjana dengan mengambil jurusan Sastra Arab di The Faculty of Islamic Call-Tripoli Libya, menjadi pembicara dalam diskusi ini.Dalam makalahnya, Fakhry, memaparkan bahwa krisis politik yang terjadi di Libya adalah gambaran pudarnya pengaruh kekuasaan Muamar Khadafi di mata rakyatnya. Pudarnya jangkauan kekuasaan Muamar Khadafi bukan tanpa alasan. Menurut peneliti yang menyelesaikan master bidang studi Islam di Institut PTIQ Jakarta ini, sejak mengambil alih kekuasaan atas Raja Idris melalui kudeta militer tidak berdarah pada 1 September 1969, Libya mengalami transisi dari negara yang demokratis menuju otoritarianisme. Lebih lanjut Fahry menggambarkan bahwa dalam masa kepemimpinan Raja Idris lembaga-lembaga politik  seperti parlemen mampu menetapkan 11 perdana menteri selama kurun waktu 18 tahun. Hal ini menggambarkan bahwa mekanisme pergantian kepemimpinan berjalan secara berkala. Selain itu adanya pemilihan umum sejak tahun 1951 maupun adanya partai politik sebagai ciri negara demokratis mampu dipenuhi oleh rejim ini.

Berbeda dengan kepemimpinan Raja Idris yang memperbolehkan hadirnya partai politik,  Muamar Khadafi tidak mentolerir adanya partai politik, pemilihan umum maupun dewan perwakilan rakyat. Baginya dewan perwakilan rakyat hanya mampu menjadi perwakilan partai dan kelompoknya sendiri karena tidak sepenuhnya mampu memenuhi gambaran perwakilan rakyat secara sebenarnya. Selain kebijakan melarang adanya partai politik dan berbagai lembaga politik yang mampu menjadi penyeimbang kekuasaannya, Muamar Khadafi juga melarang berbagai gerakan Islam bahkan membantainya karena dianggap sebagai bentuk pengkianatan kepada negara. Melalui penerbitan dua kitab hijau  (Kitab Akhdar) serta buku dengan judul The Third International Theory, Khadafi menjalankan pemerintahannya dengan mendasarkan pada ketiganya yang di kemudian hari dikukuhkan menjadi konstitusi Libya.

Berbagai kebijakan yang dijalankan oleh Muamar Khadafi ini bagi Fahry merupakan gambaran bahwa pemerintahan Khadafi identik dengan rejim otoriter. Tidak saja saat Khadafi menangkap bahkan memenjarakan aktivis Ikhwanul Muslimin di Libya tahun 1973 dan pelarangan The Libya Fighting Group (LIFG) sejak berdirinya organisasi tersebut di tahun 1982, tetapi juga terlihat pada dikukuhkannya ketiga buku buatan Khadafi menjadi konstitusi Libya. Hal ini menandakan bahwa aturan datang dari seseorang bukan dari hukum dimana keputusan politik datang dari satu pihak dan berlangsung tertutup serta tidak terbatas. Selain itu pelarangan terhadap berbagai bentuk partai politik dan kehadiran dewan perwakilan rakyat merupakan gambaran tidak adanya jaminan kebebasan sipil.

Setelah memberi ulasan gambaran kedua rejim yang ada di Libya, di penghujung makalahnya, Fahry membuat kalkulasi bahwa sudah saatnya Khadafi mundur dari kursi kepemimpinannya untuk menghindari konflik yang lebih luas. Analisa yang diajukan Fahry adalah selain faktor internal yang tergambar dari berbagai aksi kekerasan menentang kekuasaan dan tuntutan adanya pergantian kepemimpinan juga adanya faktor eksternal yang terlihat dari dukungan Amerika Serikat terhadap kaum oposisi meski dukungan ini mengandung agenda ‘kepentingan’ penguasaan sumber minyak. Selain itu Khadafi juga telah kehilangan dukungan dari dunia Islam atas tindakannya membantai kaum muslimin di Libya. Namun kemunduran Khadafi dari tampuk kepemimpinan juga akan menyisakan persoalan tersendiri bagi Libya mengingat sulitnya mencari figur pemimpin yang akan menggantikan Khadafi. Seperti yang telah dipaparkan oleh Fahry kesulitan ini lebih disebabkan karena sistem politik yang ada tidak memberi kesempatan tumbuhnya tokoh-tokoh politik selain yang memiliki pemahaman sama dengan pemerintah yang berkuasa. Maka jika terjadi suksesi kepemimpinan, Fahry menduga bahwa kekuasaan akan jatuh ke tangan keluarga dekat atau orang-orang yang memiliki kekuasaan selama pemerintahan Khadafi. (Septi Satriani)


| Tinggalkan komentar